Healthy

Healthy
fruit and vegetable

Selasa, 18 Desember 2012

Nutrisi untuk penyembuhan Luka

Nutrisi memainkan peran yang besar dalam proses penyembuhan luka, meski tergantung pula pada keparahan dari luka yang dialami. Karenanya ketahui nutrisi apa saja yang dibutuhkan untuk mempercepat penyembuhan luka.

Proses penyembuhan luka adalah kompleks dan melalui beberapa tahap yaitu:

1. Fase inflamasi
Pada fase ini, penyempitan pertama dari pembuluh darah untuk memastikan pembentukan gumpal
an. Setelahnya, prostaglandin dan histamin dalam darah akan mulai melebarkan pembuluh darah untuk meningkatkan aliran darah ke luka.

2. Fase prolifetarif
Selama fase ini, matriks darah baru dan sel-sel kulit mulai terbentuk, serta fibrolast yang berfungsi memproduksi kolagen juga terbentuk. Proses ini dipengaruhi oleh asam laktat, asam askorbat dan faktor yang mempengaruhi oksigen seperti zat besi, tembaga dan pyridoxine.

3. Fase pematangan
Pada tahap ini, penutupan luka di kulit terjadi, kulit mulai melakukan renovasi meskipun kadang tidak tertutup secara sempurna.

Untuk mendukung ketiga tahapan ini, ada beberapa nutrisi yang berperan, seperti dikutip dari Lifemojo, Senin, 10/10/2011) yaitu:

Vitamin C
Vitamin ini bertindak sebagai kofaktor dalam produksi kolagen, serta mencegah pecahnya luka-luka yang sudah sembuh. Sumbernya bisa dari tomat, paprika, kentang, bayam, jeruk, strawberry, brokoli, kol dan kembang kol.

Vitamin A
Perannya adalah mempromosikan sintesis kolagen dan diferensiasi fibroblast serta mengendalikan infeksi. Sumbernya dari sayuran berdaun hijau, buah-buahan berwarna kuning dan orange, produk susu yang sudah difortifikasi serta hati hewan.

Vitamin K
Pembekuan darah adalah fase pertama dari proses penyembuhan luka, dan vitamin K berperan besar dalam proses ini. Vitamin K bersama kalsium menghasilkan trombin (agen utama pembekuan tubuh). Sumbernya dari sayuran berdaun hijau, brokoli, anggur, alpukat dan kiwi.

Zinc
Zinc membantu berbagai jenis enzim di tubuh untuk melaksanakan fungsinya, karena banyak enzim yang terlibat dalam penyembuhan luka terutama produksi kolagen. Selain itu membantu proses pembelahan sel yang memungkinkan tubuh menggunakan protein tertentu. Sumbernya dari seafood, domba, daging merah, sereal. asparagus, sawi, kacang polong, miso dan biji wijen.

Zat besi
Dalam proses sintesis kolagen, zat besi diperlukan untuk hidroksilasi proline dan lisin. Jika orang kekurangan zat besi (anemia) akan mengganggu penyembuhan luka. Sumbernya bisa dari kunyit, kacang panjang, aspragaus, tahu, jamur shiitake, bayam, daun bawang, rumput laut, daging sapi dan rusa.

Tembaga (copper)
Tembaga membantu enzim lysyl oxidase untuk memproduksi kolagen dan elastin yang berfungsi mempromosikan penyembuhan luka agar lebih cepat. Sumbernya dari tomat, kentang, kacang hijau, jahe, sawi, terong, asparagus, biji bunga matahari, peppermint, lobak, jamur crimini dan tempe.

Lidah Buaya untuk rawat Luka,,,"Love wound care"


• Aloe vera sebagai obat luka. Jika terjadi luka luar, lendir lidah buaya bisa menjadi alternatif yang baik sebagai pertolongan pertama pada luka. Sifat lidah buaya yang anti inflamasi akan mampu mencegah peradangan yang mungkin timbul aki
bat infeksi pada luka. Selain itu khasiat lidah buaya sebagai obat luka juga berfungsi untuk membantu proses regenerasi sel, sehingga luka tadi akan lebih cepat pulih.

• Aloe vera sebagai perawatan kulit tubuh. Kandungan lidah buaya yang kaya akan asam amino, vitamin dan mineral sangat sesuai untuk digunakan sebagai pelembab alami bagi kulit. Zat-zat tadi merupakan komponen yang sangat diperlukan oleh kulit tubuh, yang akan merangsang pertumbuhan sel-sel kulit yang baru. Sehingga kulit tubuh akan terjaga kesehatannya. tak heran jika kini banyak produk perawatan kulit memasukkan aloe vera dalam komposisinya.

sumber : http://duniatanaman.com/berbagai-manfaat-lidah-buaya.html

Minggu, 21 Oktober 2012

Manfaat Jus Alpukat



Berikut beberapa manfaat jus alpukat untuk kesehatan

1. Menyehatkan Mata
Alpukat mengandung carotenoid lutein. Lutein bermanfaat menjaga kesehatan mata terhadap katarak.

2. Menurunkan Kolesterol
Alpukat mengandung asam oleat dan beta-sitosterol yang dikenal berperan menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah, sehingga mengurangi resiko penyakit jantung, stroke, hipertensi dan diabetes.

3. Membantu Mengendalikan Tekanan Darah
Alpukat kaya kalium yang bermanfaat mengendalikan tekanan darah sehingga mencegah tekanan darah tinggi.

4. Mencegah Kanker
Alpukat mengandung fitonutrien yang bermanfaat mencegah kanker prostat bagi pria. Alpukat juga mengandung asam oleat yang bermanfaat mencegah kanker payudara bagi wanita

5. Mencegah Efek Penuaan
Alpukat kaya antioksidan terutama vitamin C, vitamin E, dan glutathione. Antioksidan berperan melawan kerusakan sel akibat stress oksidatif sehingga mencegah efek penuaan.

6. Memperkuat Kekebalan tubuh
Vitamin C yang terdapat dalam buah alpukat berperan penting dalam memperkuat kekebalan tubuh.

7. Mencegah Radang Sendi (Artritis)
Alpukat mengandung polifenol dan flavonoid yang merupakan zat anti-inflamasi yang bermanfaat mencegah radang sendi (artritis).

Sabtu, 17 Desember 2011

ASUHAN KEPERAWATAN ENSEPHALITIS


Pengertian Ensefalitis 
Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non purulent.
            Patogenesis Ensefalitis
Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara:
·        Setempat:virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu.                                                
·        Penyebaran hematogen primer:virus masuk ke dalam darah kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.
·        Penyebaran melalui saraf-saraf : virus berkembang biak di permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf.
Masa Prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremintas dan pucat .
Gejala lain berupa gelisah, iritabel, perubahan perilaku, gamgguan kesadaran, kejang.
Kadang-kadang disertai tanda Neurologis tokal berupa Afasia, Hemifaresis, Hemiplegia, Ataksia, Paralisis syaraf otak.
Penyebab Ensefalitis 
Penyebab terbanyak : Virus
Sering : Herpes simplex, Arbo virus
Jarang : Entero virus, Mumps, Adeno virus
Post Infeksi : Measles, Influenza, Varisella     
Post Vaksinasi : Pertusis

Gejala-Gejala Ensefalitis
Panas badan meningkat ,photo fobi,sakit kepala ,muntah-muntah lethargy ,kadang disertai kaku kuduk apabila infeksi mengenai meningen.
      Anak tampak gelisah kadang disertai perubahan tingkah laku. Dapat disertai gangguan penglihatan ,pendengaran ,bicara dan kejang.    

ASUHAN KEPERAWATAN
        
I. PENGKAJIAN
1. Identitas
Ensefalitis dapat terjadi pada semua kelompok umur.
2. Keluhan utama
Panas badan meningkat, kejang, kesadaran menurun.
3. Riwayat penyakit sekarang
 Anak rewel,gelisah,muntah-muntah ,panas meningkat kurang lebih 1-4 hari, sakit kepala.           
4. Riwayat penyakit dahulu
Klien sebelumnya menderita batuk , pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah menderita penyakit Herpes, penyakit infeksi pada hidung,telinga dan tenggorokan.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus contoh : Herpes dll. Bakteri contoh : Staphylococcus Aureus,Streptococcus , E , Coli ,dll.
6. Imunisasi
Kapan terakhir diberi imunisasi DTP
Karena ensefalitis dapat terjadi post imunisasi pertusis.

Pola-Pola  Fungsi Kesehatan
1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
    a. Kebiasaan
sumber air yang dipergunakan dari PAM atau sumur ,kebiasaan buang air besar di WC,lingkungan penduduk yang berdesakan (daerah kumuh)
    b. Status Ekonomi
Biasanya menyerang klien dengan status ekonomi rendah.
2. Pola Nutrisi dan Metabolisme
    a.  Menyepelekan anak yang sakit ,tanpa pengobatan yang semPemenuhan Nutrisi
Biasanya klien dengan gizi kurang asupan makana dan cairan dalam jumlah kurang dari  kebutuhan tubuh.,
     b. Pada pasien dengan Ensefalitis biasanya ditandai
 Dengan adanya mual, muntah, kepalah pusing, kelelahan.
     c. Status Gizi yang berhubungan dengan keadaan tubuh.
Postur tubuh biasanya kurus ,rambut merah karena kekurangan vitamin A,berat badan kurang dari normal.
3. Pola Eliminasi
a. Kebiasaan Defekasi sehari-hari
Biasanya pada pasien Ensefalitis karena pasien tidak dapat melakukan mobilisasi maka dapat terjadi obstipasi.
b. Kebiasaan Miksi sehari-hari
Biasanya pada pasien Ensefalitis kebiasaan mictie normal frekuensi normal.
Jika kebutuhan cairan terpenuhi. Jika terjadi gangguan kebutuhan cairan maka produksi irine akan menurun ,konsentrasi urine pekat.
                              4.  Pola tidur dan istirahat
Biasanya pola tidur dan istirahat pada pasien Ensefalitis biasanya tidak dapat dievaluasi karena pasien sering mengalami apatis sampai koma.
5. Pola Aktivitas
A. Aktivitas sehari-hari : klien biasanya terjadi gangguan karena bx  Ensefalitis dengan gizi buruk mengalami kelemahan.
B. Kebutuhan gerak dan latihan : bila terjadi kelemahan maka latihan gerak dilakukan latihan positif.
C. Upaya pergerakan sendi : bila terjadi atropi otot pada px gizi buruk maka dilakukan latihan pasif sesuai ROM
D. Kekuatan otot berkurang karena px Ensefalitisdengan gizi buruk .Kesulitan yang dihadapi bila terjadi komplikasi ke jantung ,ginjal ,mudah terkena infeksi berat, aktifitas togosit turun ,Hb turun ,punurunan kadar albumin serum ,gangguan pertumbuhan.           
6. Pola Hubungan Dengan Peran
Interaksi dengan keluarga / orang lain  biasanya pada klien dengan Ensefalitis kurang karena kesadaran klien menurun mulai dari apatis sampai koma.
7. Pola Persepsi dan pola diri
Pada klien Ensenfalitis umur > 4 ,pada persepsi dan konsep diri
Yang meliputi Body Image ,seef Eslum ,identitas deffusion deper somalisasi belum bisa menunjukkan perubahan.
8. Pola sensori dan kuanitif
a. Sensori
-  Daya penciuman                                -  Daya  rasa                          
-  Daya raba                                           -  Daya penglihatan                                                      
-  Daya pendengaran
9. Pola Reproduksi Seksual
Bila anak laki-laki apakah testis sudah turun ,fimosis tidak ada.
10. Pola penanggulangan Stress     
 Pada pasien Ensefalitis karena terjadi gangguan kesadaran  :
Stress fisiologi à biasanya anak hanya dapat mengeluarkan air mata  saja ,tidak bisa menangis dengan keras (rewel) karena terjadi afasia.
      Stress Psikologi tidak di evaluasi          
            
PEMERIKSAAN LABORATORIUM / PEMERIKSAAN PENUNJANG
Gambaran cairan serebrospinal dapat dipertimbangkan meskipun tidak begitu membantu. Biasanya berwarna jernih ,jumlah sel 50-200 dengan dominasi limfasit. Kadar protein kadang-kadang meningkat, sedangkan glukosa masih dalam batas normal.

Gambaran EEG memperlihatkan proses inflamasi difus (aktifitas lambat bilateral).Bila terdapat tanda klinis flokal yang ditunjang dengan gambaran EEG atau CT scan dapat dilakukan biopal otak di daerah yang bersangkutan. Bila tidak ada tanda klinis flokal, biopsy dapat dilakukan pada daerah lobus temporalis yang biasanya menjadi predileksi virus Herpes Simplex.


II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan terhadap infeksi turun.
2. Resiko tinggi perubahan peR/usi jaringan b/d Hepofalemia, anemia.
3. Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umu.
4.  Nyeri b/d adanya proses infeksi yang ditandai dengan anak menangis, gelisah.
5.  Gangguan mobilitas b/d penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan ROM terbatas.
6.  Gangguan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah.
7. Gangguan sensorik motorik (penglihatan, pendengaran, gaya bicara) b/d kerusakan susunan saraf pusat.
8. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan sakit kepala mual.
9. Resiko gangguan integritas kulit b/d daya pertahanan tubuh terhadap infeksi turun.
10Resiko terjadi kontraktur b/d spastik berulang.

III. INTERVENSI KEPERAWATAN
A.    Diagnosa 1
Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan tubuh terhadap infeksi turun
Tujuan:
-  tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil:
-  Masa penyembuhan tepat waktu tanpa bukti penyebaran infeksi endogen
Intervensi
1.      Pertahanan teknik aseptic dan teknik cuci tangan yang tepat baik petugas atau pengunmjung. Pantau dan batasi pengunjung.
       R/. menurunkan resiko px terkena infeksi sekunder . mengontrol penyebaran Sumber infeksi, mencegah pemajaran pada individu yang mengalami nfeksi saluran nafas atas.
2.      Abs. suhu secara teratur dan tanda-tanda klinis dari infeksi.
       R/. Deteksi dini tanda-tanda infeksi merupakan indikasi perkembangan  meningkosamia .
3.      Berikan antibiotika sesuai indikasi
       R/. Obat yang dipilih tergantung tipe infeksi dan sensitivitas individu.

B.     Diagnosa 2
Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umum
Tujuan :
-          Tidak terjadi trauma
Kriteria hasil :
-          Tidak mengalami kejang / penyerta cedera lain
Intervensi :
1. Berikan pengamanan pada pasien dengan memberi bantalan,penghalang tempat tidur tetapn terpasang dan berikan pengganjal pada mulut, jalan nafas tetap bebas.
R/. Melindungi px jika terjadi kejang , pengganjal mulut agak lidah tidak tergigit.
Catatan: memasukkan pengganjal mulut hanya saat mulut relaksasi.
2. Pertahankan tirah baring dalam fase akut.
R/. Menurunkan resiko terjatuh / trauma saat terjadi vertigo.
3. Kolaborasi.
Berikan obat sesuai indikasi seperti delantin, valum dsb.
R/. Merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang.
4. Abservasi tanda-tanda vital
R/. Deteksi diri terjadi kejang agak dapat dilakukan tindakan lanjutan.

C.     Diagnosa 3
Resiko terjadi kontraktur b/d kejang spastik berulang
Tujuan             :
-        Tidak terjadi kontraktur
Ktiteria hasil    :
-          Tidak terjadi kekakuan sendi
-          Dapat menggerakkan anggota tubuh
Intervensi
1.        Berikan penjelasan pada ibu klien tentang penyebab terjadinya spastik ,
Terjadi kekacauan sendi.
R/ . Dengan diberi penjelasan diharapkan keluarga mengerti dan mau
       Membantu program perawatan .
2.        Lakukan latihan pasif mulai ujung ruas jari secara bertahap
R/    Melatih melemaskan otot-otot, mencegah kontraktor
3.        Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam
R/    Dengan melakukan perubahan posisi diharapkan peR/usi ke
       Jaringan lancar, meningkatkan daya pertahanan tubuh .
4.        Observasi gejala kaerdinal setiap 3 jam
R/   Dengan melakukan observasi dapat melakukan deteksi dini bila
       Ada kelainan dapat dilakukan inteR/ensi segera
5.        Kolaborasi untuk pemberian pengobatan spastik dilantin / valium sesuai
Indikasi
R/   Diberi dilantin / valium ,bila terjadi kejang  spastik ulang

DAFTAR PUSTAKA

Laboratorium UPF Ilmu Kesehatan Anak, Pedoman Diagnosis dan Terapi, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya, 1998
Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta,1997.
Rahman M, Petunjuk Tentang Penyakit, Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium, Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Salemba, Jakarta, 1986.
Sacharian, Rosa M, Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta ,1993.
Sutjinigsih (1995), Tumbuh kembang Anak, Penerbit EGC, Jakarta.




PATOFISIOLOGI ENSEFALISTIS

                                       Virus / Bakteri
                                      
  
                                       Mengenai CNS          
                                                              
                                         
                                        Insevalitis
                                                  




                                                                                      
  Tik                                      Kejaringan Susu Non Saraf Pusat            Panas/Sakit kepala
                                                                                        

Muntah- muntah                     Kerusakan- kerusakan susunan                     Rasa Nyaman
     Mual                                                Saraf  Pusat
                                                                       

BB Turun                   
- Gangguan Penglihatan      Kejang Spastik
                           - Gangguan Bicara                 
Nutrisi Kurang            - Gangguan Pendengaran    Resiko Cedera
               - Kekemahan Gerak            Resiko Contuaktur
                                                        
              
- Gangguan Sensorik
                           Motorik






PATO FISIOLOGI GIZI KURANG
Asupan Makanan Kurang
           
           
   Defisiensi Protein Energi ( EDP ) Defisiensi Vitamin A
                                      
                                                                                   
              

gangguan         Penurunan keadaan     aktivitas                       Hb                 sintensis ennim
pertumbuhan   albumin                       fagosit                                                                                                                                                                              














BB rendah      oediem/asites           Daya tahan thd        anemia          ganguan Pencernaan
                                                        Infeksi                                           dan metabolisme
                                                                                     Gangguan
                                                                                 Pengankutan O2
Nutrisi        gangguan integritas     mudah infeksi                               gangguan nutrisi
Kurang        kulit                            /terkena infeksi